Sabtu, 30 Juni 2012

Cerita 3 tahun yang lalu; bagian 1


“masa-masa dimana kebebasan masih terasa nyata.
Tersenyum dalam lelah yang kuinginkan, rindu akan tempat itu”...
~Riva Mairiska~



Waktu sudah menunjukkan pukul 8 lewat 45 menit, malam. Aku duduk di sebuah bangku kayu di sebuah kos-kosan dipasar baru, menunggu seorang kawan yang ngekos disitu sedang sibuk dengan ranselnya, packing. Seorang kawan lagi juga sudah menunggu di rumahnya, di daerah siteba. Sebentar lagi, kami akan melakukan pendakian, bertiga saja. Aku, Ridwan dan Riva. Gunung Singgalang menjadi tujuan pendakian kami.

Setelah selesai packing, aku dan Ridwan pun berangkat menuju siteba, tempat Riva menunggu, dengan menggunakan motor. Awalnya kami kebingungan karena harus membawa 2 ransel yang lumayan berat, satu ransel dengan kapasitas 60 liter, itu ranselku, eiger forester. Satu lagi berkapasitas 80 liter, milik Ridwan. Akhirnya diputuskan akulah yang akan membawa motor, sementara Ridwan dan kedua ransel menjadi boncenganku. Tanpa menghiraukan tatapan aneh orang-orang yang melihat, kami pun melaju di dalam kepayahan, satu ransel di punggung Ridwan dan satu ransel lagi di pangkunya. Jangan pikir hanya Ridwan saja yang tersiksa dengan situasi ini. Aku, yang mengendarai motor juga tersiksa, karena ransel yang di pangkuannya menindih punggungku. Namun semua itu tak berarti apa-apa, mengingat apa yang akan menanti kami nanti...”Singgalang, here we come”, batinku.

Sampailah kami di rumah Riva. Dia sudah menunggu cukup lama. Tanpa membuang waktu, Riva pun mencari betor alias becak motor untuk mengantar kami ke air tawar. Sementara motorku, kutitip di rumahnya. Dari sana kami akan melanjutkan perjalanan ke Koto Baru menggunakan bus atau mobil travel. Saat itu sedang musim durian, jadi banyak orang yang berjualan durian disepanjang jalan tempat kami menunggu. Tergiur melihat durian, kami pun membeli beberapa untuk dibawa.

Tak berapa lama setelah itu, kami pun berangkat. Duduk di bangku belakang, berceloteh, berkelakar, sampai aku merasa sedikit pusing dan melanjutkan sisa perjalanan dalam diam. Saat itu, Riva sudah bekerja sebagai PNS di Dinas Pariwisata Sawahlunto, sementara aku dan Ridwan masih tertatih-tatih melanjutkan perkuliahan.

Sampailah kami di Koto Baru dan disambut dengan suhu yang dingin. Suasana sudah sepi karena waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam lebih. Perjalanan kami lanjutkan dengan berjalan kaki menggunakan senter dan headlamp sebagai alat penerangan. Malam ini kami akan camp di pos stasiun pemancar TVRI yang berada di ketinggian sekitar 1550 mdpl. Butuh waktu kurang lebih dua jam menuju tower.

Sepanjang perjalanan kami kembali bergurau, saling ledek lalu tertawa. Bagi Ridwan ini adalah pendakian perdananya ke Gunung Singgalang, sedangkan bagiku dan Riva adalah untuk yang kesekian kalinya. Cukup melelahkan juga, karena jalanan menanjak serta melewati ladang penduduk. Juga terdapat ladang tebu di kedua sisi jalan yang kami lewati.

Pukul 1 dini hari, kami tiba di pos stasiun pemancar tersebut. Tanpa dikomando, kamipun segera mendirikan tenda, memasak air dan memasang lentera. Asap mengepul dari cangkir teh kami. Tiup dan sruput. Ah, menyegarkan. Tenaga pun sudah kembali setelah meminum secangkir teh dan beberapa keping biskuit. Tentu saja kami tak melupakan durian yang kami beli sebelum berangkat tadi. Menikmati durian di tempat yang tak lumrah sungguh menjadi sebuah pengalaman yang takkan terlupakan. Kamipun mengabadikannya. Setelah puas dan kenyang, kamipun beristirahat, mengumpulkan tenaga untuk besok. Trek pendakian Gunung Singgalang telah menunggu kami dibalik tower yang berdiri tegap.

Bersambung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar