“masa-masa dimana kebebasan masih terasa nyata.
Tersenyum dalam lelah yang kuinginkan, rindu akan tempat itu”...
~Riva Mairiska~
Tersenyum dalam lelah yang kuinginkan, rindu akan tempat itu”...
~Riva Mairiska~
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 lewat 45 menit,
malam. Aku duduk di sebuah bangku kayu di sebuah kos-kosan dipasar baru,
menunggu seorang kawan yang ngekos disitu sedang sibuk dengan ranselnya, packing. Seorang kawan lagi juga sudah
menunggu di rumahnya, di daerah siteba. Sebentar lagi, kami akan melakukan
pendakian, bertiga saja. Aku, Ridwan dan Riva. Gunung Singgalang menjadi tujuan
pendakian kami.
Setelah selesai packing, aku dan Ridwan pun
berangkat menuju siteba, tempat Riva menunggu, dengan menggunakan motor.
Awalnya kami kebingungan karena harus membawa 2 ransel yang lumayan berat, satu
ransel dengan kapasitas 60 liter, itu ranselku, eiger forester. Satu lagi
berkapasitas 80 liter, milik Ridwan. Akhirnya diputuskan akulah yang akan
membawa motor, sementara Ridwan dan kedua ransel menjadi boncenganku. Tanpa menghiraukan
tatapan aneh orang-orang yang melihat, kami pun melaju di dalam kepayahan, satu
ransel di punggung Ridwan dan satu ransel lagi di pangkunya. Jangan pikir hanya
Ridwan saja yang tersiksa dengan situasi ini. Aku, yang mengendarai motor juga
tersiksa, karena ransel yang di pangkuannya menindih punggungku. Namun semua
itu tak berarti apa-apa, mengingat apa yang akan menanti kami
nanti...”Singgalang, here we come”, batinku.
Sampailah kami di rumah Riva. Dia sudah menunggu
cukup lama. Tanpa membuang waktu, Riva pun mencari betor alias becak motor
untuk mengantar kami ke air tawar. Sementara motorku, kutitip di rumahnya. Dari
sana kami akan melanjutkan perjalanan ke Koto Baru menggunakan bus atau mobil
travel. Saat itu sedang musim durian, jadi banyak orang yang berjualan durian disepanjang
jalan tempat kami menunggu. Tergiur melihat durian, kami pun membeli beberapa
untuk dibawa.
Tak berapa lama setelah itu, kami pun berangkat.
Duduk di bangku belakang, berceloteh, berkelakar, sampai aku merasa sedikit
pusing dan melanjutkan sisa perjalanan dalam diam. Saat itu, Riva sudah bekerja
sebagai PNS di Dinas Pariwisata Sawahlunto, sementara aku dan Ridwan masih
tertatih-tatih melanjutkan perkuliahan.
Sampailah kami di Koto Baru dan disambut dengan
suhu yang dingin. Suasana sudah sepi karena waktu sudah menunjukkan pukul 11
malam lebih. Perjalanan kami lanjutkan dengan berjalan kaki menggunakan senter dan
headlamp sebagai alat penerangan. Malam ini kami akan camp di pos stasiun pemancar TVRI yang berada di ketinggian sekitar 1550 mdpl. Butuh waktu kurang
lebih dua jam menuju tower.
Sepanjang perjalanan kami kembali bergurau,
saling ledek lalu tertawa. Bagi Ridwan ini adalah pendakian perdananya ke
Gunung Singgalang, sedangkan bagiku dan Riva adalah untuk yang kesekian
kalinya. Cukup melelahkan juga, karena jalanan menanjak serta melewati ladang
penduduk. Juga terdapat ladang tebu di kedua sisi jalan yang kami lewati.
Pukul 1 dini hari, kami tiba di pos stasiun pemancar tersebut.
Tanpa dikomando, kamipun segera mendirikan tenda, memasak air dan memasang
lentera. Asap mengepul dari cangkir teh kami. Tiup dan sruput. Ah, menyegarkan.
Tenaga pun sudah kembali setelah meminum secangkir teh dan beberapa keping
biskuit. Tentu saja kami tak melupakan durian yang kami beli sebelum berangkat
tadi. Menikmati durian di tempat yang tak lumrah sungguh menjadi sebuah
pengalaman yang takkan terlupakan. Kamipun mengabadikannya. Setelah puas dan
kenyang, kamipun beristirahat, mengumpulkan tenaga untuk besok. Trek pendakian
Gunung Singgalang telah menunggu kami dibalik tower yang berdiri tegap.
Bersambung....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar