Minggu, 06 Oktober 2013

Semeru di 2013 nya agustus; #2

Suara diluar tenda membangunku. Saat itu waktu sudah menunjukkan hampir pukul 5 shubuh, tapi diluar sudah banyak penghuni ranu kumbolo yang terbangun. Sepertinya mereka hendak menanti sunrise. Aku pun membangunkan yang lain. Kami tak boleh kehilangan moment yang satu ini, karena sudah jauh2 datang kesini, begitu pikirku. Kebetulan tenda kami berada tepat di depan lembah V (aku mendengar Dani menyebutnya begitu), tempat dimana matahari akan terbit dan memperlihatkan kecantikannya, mahakarya Sang Pencipta jagad raya ini. Camdig pun disiapkan. Tangkap dan simpan, maka abadilah momen itu.

Setelah sarapan, kami pun bersiap untuk melanjutkan pendakian. Tanjakan cinta, salah satu jalur trek Gunung Semeru, telah menunggu kami. Konon mitosnya, siapa yang bisa strike naik tanjakan cinta tanpa berhenti, tanpa menoleh kebelakang dan sambil memikirkan orang yang disuka, maka permohonannya akan dikabulkan. Mitos ini mungkin jadi salah satu daya tarik orang-orang yang datang ke Semeru. Setelah berada di top tanjakan cinta, kami rehat sejenak. Di belai angin gunung sambil menyaksikan keindahan Ranu kumbolo dari sisi lain. Aku pun terkesima dan bergumam, “Tuhan, kami di Semeru”.

Trek selanjutnya menuju Cemoro Kandang dengan melewati savana oro2 ombo. Di oro2 ombo tumbuh sejenis tanaman rumput liar berbunga ungu mirip lavender dengan nama latin verbena brasiliensis. Tapi sayang sekali, saat itu bunga ungu tersebut telah berubah kecoklatan. Bunga rumput ini tingginya melebihi tinggi orang dewasa dan kami melewati hamparan verbena brasiliensis tersebut bersama. Di depan kami telah menunggu pos cemoro kandang. Kami rehat sejenak ketika sampai di pos tersebut. Kami melihat asap membumbung ke udara di sebelah timur cemoro kandang. Keesokkan harinya baru kami ketahui bahwa telah terjadi kebakaran dan hamparan yang sebelumnya hijau ataupun kuning telah berubah menjadi hitam, hangus terbakar. Kebakaran di Semeru ternyata cukup sering terjadi, apalagi disini relatif jarang turun hujan.

Selanjutnya, kami menuju jambangan. Di jalur ini kami menemui beberapa pendakian yang cukup terjal sehingga lebih sering berhenti untuk sekedar mengatur nafas, ditambah lagi jalur yang berdebu. Tidak seperti jalur Gunung Singgalang, Kerinci ataupun Talamau yang relatif lembab, disini sebagian besar jalur yang dilewati berdebu. Alangkah baiknya bila para pendaki menggunakan masker saat nge trek di gunung ini. Di kedua sisi jalur terdapat pohon-pohon tinggi yang mungkin sudah berumur puluhan atau ratusan tahun. Sesekali kami juga menemukan edelweis, anaphalis javanica, di jalur tersebut. Sungguh merupakan suguhan yang menarik. Jam 13.30, kami pun sampai di pos kalimati, 30 menit setelah melewati pos jambangan.

Seperti biasa, kami segera mendirikan tenda dan memasak. Lokasi tenda kami menghadap puncak Semeru yang akan kami daki nanti malam. Betapa gagah dan hebatnya ciptaan Tuhan. Aku dan teman-teman terpesona melihat atap jawa yang berdiri tegap dihadapan kami. Sesekali terlihat asap yang dimuntahkan dari kawah Jonggring Saloko menjauh dari puncak terbawa angin. Aku pun memohon di dalam hati agar kami diperkenankan menginjakkan kaki di titik 3676 mdpl nanti.

Malam ini, segala persiapan untuk summit tengah malam nanti telah dipersiapkan sebelum kami beranjak tidur. Bahkan kami tidur dengan pakaian lengkap untuk summit kecuali sepatu. Headlamp dan perbekalan yang akan dibawapun telah dipacking dalam sebuah daypack. Karena kami akan summit pukul 11 malam, maka jadwal tidurpun dipercepat. Sebelum tidur, akupun menyetel alarm di jam 10.30 malam dan tidak lupa memanjatkan doa.
Pukul 11 malam lebih, kami semua berdiri melingkar di depan tenda, seraya memanjatkan doa, memohon kepada Sang Pencipta agar pendakian ini sukses hingga kami bisa mencapai Top. Headlamp-ku sedikit bermasalah, tak mau menyala, sepertinya ia menyerah pada dinginnya Semeru. Sukurlah Wati membawa headlamp cadangan, dan meminjamkannya padaku. Kami berjalan menembus pekatnya kegelapan kalimati.

Malam itu cerah, banyak bintang bertaburan dilangit dan menurut sebuah berita, malam ini diperkirakan akan terjadi hujan meteor.  Setelah satu setengah jam berjalan, kami sampai di pos Arcopodo. Disini aku melihat beberapa tenda pendaki. Sebenarnya kalau camp disini, maka jarak tempuh ke puncak menjadi lebih pendek. Hanya saja disini tak tersedia sumber air. Itu sebabnya kami lebih memilih camp di Kali mati. Pendakian dilanjutkan. Sampai disini, trek masih belum terasa begitu berat. Pijakan masih pasti, meski berdebu cukup hebat. Bekas pijakan orang yang ada di depan kita akan menimbulkan debu sehingga akan mengganggu pendakian bila tak menggunakan masker.

Akhirnya, kami sampai juga di cemoro tunggal, tempat dimana pohon terakhir tumbuh, selanjutnya trek hanya akan terdiri dari batu dan pasir. Bismillah, langkah diayunkan. Di kejauhan, terlihat sorot headlamp pendaki lain yang sudah duluan naik. Lumayan banyak juga yang summit malam ini. 3 jam mendaki masih belum terlalu berat meski sudut kemiringan sudah lebih dari 45 derjat. Pijakan2 pasti masih banyak. Aku malah sering bergumam, “katanya 1 langkah naik, 2 langkah melorot turun, manaa?”

Setelah 5 jam pendakian barulah aku menemui trek tersebut. Pasir, dalam, dan melorot. Rasanya hampir putus asa hingga membuat ku sering berhenti sejenak, sekedar menguatkan hati, membulatkan kembali tekad untuk sampai di puncak. Dan yang menambah keputusasaanku saat itu adalah aku kehilangan sunrise puncak Semeru. Itu membuat semangatku menguap 2 x lebih cepat. Kemiringan trek semakin ke puncak semakin mendekati 90 dan pasir yang dipijak pun semakin mudah melorot. “Gila! tak mungkin Pevita Pearce  lewat trek ini, apalagi si Igor” pikirku.

Akhirnya setelah 7 jam pendakian, akupun berhasil menginjakkan kaki di ketinggian 3676mdpl pada pukul 06.00 wib. Mahameru, begitulah nama puncak Semeru. Konon menurut kitab Arjuna Wiwaha yang ditulis oleh mpu Kanwa, di puncak inilah tempat Sang Arjuna bertapa yang kemudian diuji oleh para dewa dengan mengirimkan tujuh bidadari. Beberapa pendaki sudah banyak juga yang duluan sampai di puncak. Beberapa saat kemudian Ridwan pun menyusulku. Sementara Dani  dan Wati masih berjuang melawan pasir2 melorot itu. Sungguh nikmat yang luar biasa bisa berada di atap jawa. Angin yang bertiup kencang saat di puncak, menambah dinginnya udara pagi. Ini adalah udara puncak semeru, kawan. Bendera merah putih berkibar dengan gagahnya. Lekukan-lekukan permukaan bumi nampak jelas terukir. Lagi-lagi memperlihatkan keagungan Tuhan yang menciptakan jagad raya ini dengan begitu apik dan mempesona. Belum lagi samudra awan yang menghampar putih dan di timpa cahaya matahari pagi. Ah, ini memang matahari yang sama dengan yang kulihat setiap pagi. Tapi kali ini aku melihatnya dari tempat yang teristimewa sepanjang hidupku. Lagi-lagi aku bergumam syukur.

Akhirnya Dani dan Wati sampai juga di puncak. Ini benar-benar nikmat yang tak terkira, karena kami berempat berhasil menginjakkan kaki di atap jawa.  Mendengarkan dentuman kawah Jonggring Saloko serta menyaksikan asap yang keluar dari dalamnya. Dani sendiri terlihat meneteskan air mata. Aku sendiri sudah meneteskan air mata di sepanjang jalur pendakian tadi. Sungguh berat perjuangan mencapai sebuah puncak gunung kali ini. Dan disini pula aku menyadari bahwa diri ini tak ada apa2nya, merasa benar-benar tak berdaya, merasa tak punya kekuatan. Sepanjang pendakian ke puncak tak henti2nya mulut ini bergumam, memohon kekuatan pada Tuhan.

Dan ini adalah momen yang berharga dalam hidupku, takkan terlupakan. Pendakian ini berhasil ya Tuhan. Kami di top Semeru. Kaki ini telah menapak di atap pulau Jawa. Kami pun mengabadikan momen di atas puncak Semeru. Selanjutnya kami bersiap-siap untuk turun, kembali ke kali mati....Kembali pulang.

Semeru di 2013 nya agustus; #1

Hari yang sama, 8 minggu yang lalu, pukul 17.35 tepat, kereta yang kami tumpangi mulai bergerak meninggalkan stasiun Gambir, dan dalam beberapa jam kedepan akan meninggalkan ibukota Jakarta. Pemandangan senja ibukota membingkai di jendela kereta. Kereta ini bergerak ke arah timur, menuju kota Malang. Kesanalah kami akan pergi, kawan. Tempat dimana kami akan mewujudkan mimpi. Perjalanan ini akan memakan waktu selama kurang lebih 14 jam. Ini pengalaman pertamaku naik kereta dan tentu saja aku akan sangat menikmati perjalanan ini. Apalagi mengingat yang menanti kami di ujung perjalanan ini, semakin membuat ku antusias.
Pemandangan di luar jendela pun segera berganti dengan kegelapan. Sekali-sekali terlihat lampu-lampu rumah penduduk yang tinggal di dekat rel. Satu persatu penumpang pun tertidur dalam selimut beludru birunya, salah satu fasilitas kereta. Ya, kami diberi selimut beludru berwarna biru. Karena ini adalah kereta kelas eksekutif, kawan.

Pukul 9 pagi, kereta kami tiba di stasiun kota baru Malang. Terlambat satu jam dari jadwal yang tertera di tiket. Kami pun bergegas mencari angkot menuju Pasar Tumpang. Tapi ternyata tak perlu mencari, sopir angkot tersebut yang malah datang sendiri kepada kami. Barangkali ransel-ransel yang kami sandang yang menggerakkan bapak sopir tersebut untuk bergegas menghampiri kami. Rupanya dia sudah hafal benar penumpang kereta yang akan ke Semeru. Ya, kami berempat, Saya, Ridwan, Dani, dan Wati akan naik Semeru hari ini. Setelah proses tawar-menawar, semua ransel pun dinaikkan dan kami pun berangkat ke Tumpang. Dari Tumpang, perjalanan kami lanjutkan dengan mobil Jip menuju desa Ranu Pane, desa terakhir yang terletak di kaki Gunung Semeru.

Gunung Semeru dengan ketinggian 3676 mdpl merupakan gunung tertinggi di pulau Jawa dan termasuk gunung aktif. Terletak di kabupaten Malang, Jawa Timur dan berada dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), gunung Semeru telah menjadi destinasi wajib oleh para penggiat alam bebas untuk dikunjungi. Setiap pendaki yang hendak mendaki Gunung Semeru harus lapor dulu di pos lapor di desa Ranu pane dengan mengisi formulir yang telah disediakan serta membayar biaya administrasi. Sebelum kami, ternyata sudah ada ratusan orang yang naik hari ini. Namun tidak semuanya berniat untuk summit ke puncak, sebagian hanya sampai Ranu Kumbolo atau kali mati saja.

Jam 15.00 wib kami memulai pendakian menuju Ranu kumbolo. Malam ini kami akan camp disana.  Trek menuju Ranu Kumbolo relatif landai. Hanya sesekali saja bertemu dengan pendakian dengan sudut kemiringan hampir 45 derjat, namun jalur ini cukup panjang sehingga menguras tenaga kami yang sudah kelelahan. Sukurlah, tadi siang kami sempat makan perbekalan yang dibawa dari Jakarta, yang seharusnya di makan di kereta, di pasar Tumpang. Sepanjang trek, kami banyak berpapasan dengan pendaki yang hendak turun. Yang naik juga tak kalah banyak.

Hari pun mulai gelap. Masing-masing kami menggunakan headlamp sebagai penerang jalan. Setelah 3 jam lebih berjalan,  kami melihat dari kejauhan campsite Ranu Kumbolo. Seketika itu rasa lelah menghilang karena kami pikir tak lama lagi akan sampai. Namun ternyata kami harus mengelilingi lebih dari separuh ranu dulu untuk sampai di tempat camp yang sudah ramai oleh tenda para penggiat alam bebas. Pukul 19.30 kami sampai di camp ranukumbolo. Kami mendirikan tenda dalam keadaan menggigil. Teramat sangat dingin suhu di ranu kumbolo. Kami harus tetap bergerak untuk mengurangi dingin. Tidak mudah melakukan aktifitas di suhu seekstrem ini, karena harus melawan rasa dingin yang menusuk sampai ke tulang.
Ranu kumbolo pada malam hari ini ramai sekali. Pesonanya seperti magnet yang menarik para penggiat alam bebas untuk mengunjunginya. Apalagi setelah adanya film yang mengambil Gunung Semeru sebagai salah satu lokasi syutingnya. Ah, rasanya tak perlu kutuliskan lagi judul film tersebut. Kabarnya, setelah film tersebut tayang, pengunjung Gunung Semeru meningkat drastis. Tapi, kami bukan salah satu dari mereka. Pendakian ini sudah direncanakan sebelum film tersebut kami tonton. Tapi film tersebut menjadi salah satu panduan kami dalam mengenali trek pendakian Gunung Semeru. Selain itu juga ada beberapa video lain yang juga kami jadikan sebagai panduan pendakian nanti.

Ranu kumbolo jauh lebih dingin dari yang kubayangkan. Malam itu aku sulit sekali tidur, apalagi sleeping bag yang kubawa sudah uzur, jadi ia tak dapat menjalankan perannya lagi dengan baik. Sempat terlintas, aku akan mati kedinginan disini. Tak terbayangkan olehku bagaimana saat berada di kali mati nanti. Kupikir suhunya akan lebih dingin lagi dari disini. Lalu, kuhalau semua pikiran buruk itu. Hanya rasa lelah yang akhirnya dapat mengalahkan dingin tersebut, dan akupun tertidur.
******

Sabtu, 05 Oktober 2013

Musibah MU (28092013)

Sudah 8 hari berlalu sejak kejadian naas yang menimpa anggota Mapala Universitas Andalas yang sedang melakukan survey jalur di daerah batu busuak, belakang kampus unand, namun mayat 1 koban lagi belum juga ditemukan. Sebenarnya kemarin adalah waktu pencarian terakhir namun karena mayat korban belum ditemukan, sehingga waktu pencarian ditambah 3 hari lagi. Mereka, yang berjumlah 8 orang, 6 diantaranya tersapu air bah ketika hendak menyebrang sungai padang janiah. Dua orang lagi selamat hanya karena masih berada di tepi sungai. Waktu itu mereka telah selesai melakukan survey dan hendak kembali ke sekretariat. Dalam perjalanan kembali itulah kejadian mengerikan itu terjadi. Diantara ke enam korban yang tersapu air bah tersebut, 5 diantaranya telah ditemukan jenazahnya, sedangkan 1 korban lagi belum ditemukan yaitu Aidil Akbar. Diantara semua anggota, dialah anggota yang paling senior.

Dua tahun terakhir, sungai di batu busuak memang sering meluap. Ini sudah yang ketiga kalinya dan  Ramadhan tahun lalu yang terparah karena menelan korban jiwa serta tak sedikit yang kehilangan tempat tinggal dan harta bendanya. Pembalakan liar yang terjadi di daerah hulu sudah berlangsung lama dan inilah penyebab musibah tersebut terjadi. Kabarnya hutan di hulu sudah gundul, jadi rasanya tak perlu heran bila sungai sering meluap. Dan kali ini korbannya adalah anggota-anggota dari sebuah organisasi kepecintaalaman. 

Sungguh sebuah ironi, bila seorang yang menyatakan dirinya sebagai pencinta alam justru harus berakhir hidupnya oleh kekuatan alam itu sendiri. Ibarat seorang kekasih yang mati ditangan kekasihnya sendiri. Lantas apakah kita akan menyalahkan alam atas kematian kekasihnya ini? Jawabannya tentu tidak. Lalu bagaimana, apakah kita akan menyalahkan para korban karena tidak berhati-hati dalam melaksanakan kegiatannya, tidak pandai membaca tanda-tanda alam? Tentu tidak pula.

Jangan salah paham dulu. Tulisan ini bukan hendak mencari siapa yang salah diantara keduanya karena jelas sekali yang salah adalah mereka yang telah melakukan pembalakan liar itu sendiri. Disini penulis hanya hendak bermaksud agar kita, para pencinta alam, kembali merenung, bertanya kepada diri kita sendiri, Bukankah daerah tempat direnggutnya nyawa kawan-kawan kita itu adalah daerah yang sama dengan tempat kita berkegiatan? Tempat kita melihat dengan jelas kayu-kayu hasil pembalakan liar itu dibawa keluar hutan. Bukankah kita dengan nyata mendeklarasikan bahwa kita adalah seorang pencinta alam?Sudahkah selaras antara ucapan dengan usaha yang kita lakukan? Sudahkah kita benar-benar berada di jalur yang benar yaitu konservasi? Bukankah setiap anggota pencinta alam, dulu, disumpah ketika hendak dilantik?

Musibah ini adalah takdir dari Yang Maha Kuasa dan bisa menimpa siapapun. Namun ingatlah, “tak ada takdir kecuali apa yang kita perbuat”. Maka berbuatlah...!!!


***turut berduka cita yang sedalam-dalamnya, semoga korban terakhir dapat segera ditemukan. Amin.