Sudah 8 hari berlalu sejak kejadian naas yang menimpa
anggota Mapala Universitas Andalas yang sedang melakukan survey jalur di daerah
batu busuak, belakang kampus unand, namun mayat 1 koban lagi belum juga
ditemukan. Sebenarnya kemarin adalah waktu pencarian terakhir namun karena
mayat korban belum ditemukan, sehingga waktu pencarian ditambah 3 hari lagi. Mereka,
yang berjumlah 8 orang, 6 diantaranya tersapu air bah ketika hendak menyebrang
sungai padang janiah. Dua orang lagi selamat hanya karena masih berada di tepi
sungai. Waktu itu mereka telah selesai melakukan survey dan hendak kembali ke
sekretariat. Dalam perjalanan kembali itulah kejadian mengerikan itu terjadi. Diantara
ke enam korban yang tersapu air bah tersebut, 5 diantaranya telah ditemukan
jenazahnya, sedangkan 1 korban lagi belum ditemukan yaitu Aidil Akbar. Diantara
semua anggota, dialah anggota yang paling senior.
Dua tahun terakhir, sungai di batu busuak memang sering
meluap. Ini sudah yang ketiga kalinya dan
Ramadhan tahun lalu yang terparah karena menelan korban jiwa serta tak
sedikit yang kehilangan tempat tinggal dan harta bendanya. Pembalakan liar yang
terjadi di daerah hulu sudah berlangsung lama dan inilah penyebab musibah
tersebut terjadi. Kabarnya hutan di hulu sudah gundul, jadi rasanya tak perlu
heran bila sungai sering meluap. Dan kali ini korbannya adalah anggota-anggota
dari sebuah organisasi kepecintaalaman.
Sungguh sebuah ironi, bila seorang yang menyatakan dirinya
sebagai pencinta alam justru harus berakhir hidupnya oleh kekuatan alam itu
sendiri. Ibarat seorang kekasih yang mati ditangan kekasihnya sendiri. Lantas
apakah kita akan menyalahkan alam atas kematian kekasihnya ini? Jawabannya
tentu tidak. Lalu bagaimana, apakah kita akan menyalahkan para korban karena
tidak berhati-hati dalam melaksanakan kegiatannya, tidak pandai membaca
tanda-tanda alam? Tentu tidak pula.
Jangan salah paham dulu. Tulisan ini bukan hendak mencari
siapa yang salah diantara keduanya karena jelas sekali yang salah adalah mereka yang telah melakukan pembalakan liar itu sendiri. Disini penulis hanya hendak bermaksud agar kita, para pencinta alam,
kembali merenung, bertanya kepada diri kita sendiri, Bukankah daerah tempat direnggutnya nyawa
kawan-kawan kita itu adalah daerah yang sama dengan tempat kita berkegiatan?
Tempat kita melihat dengan jelas kayu-kayu hasil pembalakan liar itu dibawa
keluar hutan. Bukankah kita dengan nyata mendeklarasikan bahwa kita adalah seorang pencinta alam?Sudahkah selaras antara
ucapan dengan usaha yang kita lakukan? Sudahkah kita benar-benar berada di
jalur yang benar yaitu konservasi? Bukankah setiap anggota pencinta alam, dulu,
disumpah ketika hendak dilantik?
Musibah ini adalah takdir dari Yang Maha Kuasa dan bisa menimpa
siapapun. Namun ingatlah, “tak ada takdir kecuali apa yang kita perbuat”. Maka
berbuatlah...!!!
***turut berduka cita yang sedalam-dalamnya, semoga korban
terakhir dapat segera ditemukan. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar