Sabtu, 05 Oktober 2013

Musibah MU (28092013)

Sudah 8 hari berlalu sejak kejadian naas yang menimpa anggota Mapala Universitas Andalas yang sedang melakukan survey jalur di daerah batu busuak, belakang kampus unand, namun mayat 1 koban lagi belum juga ditemukan. Sebenarnya kemarin adalah waktu pencarian terakhir namun karena mayat korban belum ditemukan, sehingga waktu pencarian ditambah 3 hari lagi. Mereka, yang berjumlah 8 orang, 6 diantaranya tersapu air bah ketika hendak menyebrang sungai padang janiah. Dua orang lagi selamat hanya karena masih berada di tepi sungai. Waktu itu mereka telah selesai melakukan survey dan hendak kembali ke sekretariat. Dalam perjalanan kembali itulah kejadian mengerikan itu terjadi. Diantara ke enam korban yang tersapu air bah tersebut, 5 diantaranya telah ditemukan jenazahnya, sedangkan 1 korban lagi belum ditemukan yaitu Aidil Akbar. Diantara semua anggota, dialah anggota yang paling senior.

Dua tahun terakhir, sungai di batu busuak memang sering meluap. Ini sudah yang ketiga kalinya dan  Ramadhan tahun lalu yang terparah karena menelan korban jiwa serta tak sedikit yang kehilangan tempat tinggal dan harta bendanya. Pembalakan liar yang terjadi di daerah hulu sudah berlangsung lama dan inilah penyebab musibah tersebut terjadi. Kabarnya hutan di hulu sudah gundul, jadi rasanya tak perlu heran bila sungai sering meluap. Dan kali ini korbannya adalah anggota-anggota dari sebuah organisasi kepecintaalaman. 

Sungguh sebuah ironi, bila seorang yang menyatakan dirinya sebagai pencinta alam justru harus berakhir hidupnya oleh kekuatan alam itu sendiri. Ibarat seorang kekasih yang mati ditangan kekasihnya sendiri. Lantas apakah kita akan menyalahkan alam atas kematian kekasihnya ini? Jawabannya tentu tidak. Lalu bagaimana, apakah kita akan menyalahkan para korban karena tidak berhati-hati dalam melaksanakan kegiatannya, tidak pandai membaca tanda-tanda alam? Tentu tidak pula.

Jangan salah paham dulu. Tulisan ini bukan hendak mencari siapa yang salah diantara keduanya karena jelas sekali yang salah adalah mereka yang telah melakukan pembalakan liar itu sendiri. Disini penulis hanya hendak bermaksud agar kita, para pencinta alam, kembali merenung, bertanya kepada diri kita sendiri, Bukankah daerah tempat direnggutnya nyawa kawan-kawan kita itu adalah daerah yang sama dengan tempat kita berkegiatan? Tempat kita melihat dengan jelas kayu-kayu hasil pembalakan liar itu dibawa keluar hutan. Bukankah kita dengan nyata mendeklarasikan bahwa kita adalah seorang pencinta alam?Sudahkah selaras antara ucapan dengan usaha yang kita lakukan? Sudahkah kita benar-benar berada di jalur yang benar yaitu konservasi? Bukankah setiap anggota pencinta alam, dulu, disumpah ketika hendak dilantik?

Musibah ini adalah takdir dari Yang Maha Kuasa dan bisa menimpa siapapun. Namun ingatlah, “tak ada takdir kecuali apa yang kita perbuat”. Maka berbuatlah...!!!


***turut berduka cita yang sedalam-dalamnya, semoga korban terakhir dapat segera ditemukan. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar