Minggu, 06 Oktober 2013

Semeru di 2013 nya agustus; #1

Hari yang sama, 8 minggu yang lalu, pukul 17.35 tepat, kereta yang kami tumpangi mulai bergerak meninggalkan stasiun Gambir, dan dalam beberapa jam kedepan akan meninggalkan ibukota Jakarta. Pemandangan senja ibukota membingkai di jendela kereta. Kereta ini bergerak ke arah timur, menuju kota Malang. Kesanalah kami akan pergi, kawan. Tempat dimana kami akan mewujudkan mimpi. Perjalanan ini akan memakan waktu selama kurang lebih 14 jam. Ini pengalaman pertamaku naik kereta dan tentu saja aku akan sangat menikmati perjalanan ini. Apalagi mengingat yang menanti kami di ujung perjalanan ini, semakin membuat ku antusias.
Pemandangan di luar jendela pun segera berganti dengan kegelapan. Sekali-sekali terlihat lampu-lampu rumah penduduk yang tinggal di dekat rel. Satu persatu penumpang pun tertidur dalam selimut beludru birunya, salah satu fasilitas kereta. Ya, kami diberi selimut beludru berwarna biru. Karena ini adalah kereta kelas eksekutif, kawan.

Pukul 9 pagi, kereta kami tiba di stasiun kota baru Malang. Terlambat satu jam dari jadwal yang tertera di tiket. Kami pun bergegas mencari angkot menuju Pasar Tumpang. Tapi ternyata tak perlu mencari, sopir angkot tersebut yang malah datang sendiri kepada kami. Barangkali ransel-ransel yang kami sandang yang menggerakkan bapak sopir tersebut untuk bergegas menghampiri kami. Rupanya dia sudah hafal benar penumpang kereta yang akan ke Semeru. Ya, kami berempat, Saya, Ridwan, Dani, dan Wati akan naik Semeru hari ini. Setelah proses tawar-menawar, semua ransel pun dinaikkan dan kami pun berangkat ke Tumpang. Dari Tumpang, perjalanan kami lanjutkan dengan mobil Jip menuju desa Ranu Pane, desa terakhir yang terletak di kaki Gunung Semeru.

Gunung Semeru dengan ketinggian 3676 mdpl merupakan gunung tertinggi di pulau Jawa dan termasuk gunung aktif. Terletak di kabupaten Malang, Jawa Timur dan berada dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), gunung Semeru telah menjadi destinasi wajib oleh para penggiat alam bebas untuk dikunjungi. Setiap pendaki yang hendak mendaki Gunung Semeru harus lapor dulu di pos lapor di desa Ranu pane dengan mengisi formulir yang telah disediakan serta membayar biaya administrasi. Sebelum kami, ternyata sudah ada ratusan orang yang naik hari ini. Namun tidak semuanya berniat untuk summit ke puncak, sebagian hanya sampai Ranu Kumbolo atau kali mati saja.

Jam 15.00 wib kami memulai pendakian menuju Ranu kumbolo. Malam ini kami akan camp disana.  Trek menuju Ranu Kumbolo relatif landai. Hanya sesekali saja bertemu dengan pendakian dengan sudut kemiringan hampir 45 derjat, namun jalur ini cukup panjang sehingga menguras tenaga kami yang sudah kelelahan. Sukurlah, tadi siang kami sempat makan perbekalan yang dibawa dari Jakarta, yang seharusnya di makan di kereta, di pasar Tumpang. Sepanjang trek, kami banyak berpapasan dengan pendaki yang hendak turun. Yang naik juga tak kalah banyak.

Hari pun mulai gelap. Masing-masing kami menggunakan headlamp sebagai penerang jalan. Setelah 3 jam lebih berjalan,  kami melihat dari kejauhan campsite Ranu Kumbolo. Seketika itu rasa lelah menghilang karena kami pikir tak lama lagi akan sampai. Namun ternyata kami harus mengelilingi lebih dari separuh ranu dulu untuk sampai di tempat camp yang sudah ramai oleh tenda para penggiat alam bebas. Pukul 19.30 kami sampai di camp ranukumbolo. Kami mendirikan tenda dalam keadaan menggigil. Teramat sangat dingin suhu di ranu kumbolo. Kami harus tetap bergerak untuk mengurangi dingin. Tidak mudah melakukan aktifitas di suhu seekstrem ini, karena harus melawan rasa dingin yang menusuk sampai ke tulang.
Ranu kumbolo pada malam hari ini ramai sekali. Pesonanya seperti magnet yang menarik para penggiat alam bebas untuk mengunjunginya. Apalagi setelah adanya film yang mengambil Gunung Semeru sebagai salah satu lokasi syutingnya. Ah, rasanya tak perlu kutuliskan lagi judul film tersebut. Kabarnya, setelah film tersebut tayang, pengunjung Gunung Semeru meningkat drastis. Tapi, kami bukan salah satu dari mereka. Pendakian ini sudah direncanakan sebelum film tersebut kami tonton. Tapi film tersebut menjadi salah satu panduan kami dalam mengenali trek pendakian Gunung Semeru. Selain itu juga ada beberapa video lain yang juga kami jadikan sebagai panduan pendakian nanti.

Ranu kumbolo jauh lebih dingin dari yang kubayangkan. Malam itu aku sulit sekali tidur, apalagi sleeping bag yang kubawa sudah uzur, jadi ia tak dapat menjalankan perannya lagi dengan baik. Sempat terlintas, aku akan mati kedinginan disini. Tak terbayangkan olehku bagaimana saat berada di kali mati nanti. Kupikir suhunya akan lebih dingin lagi dari disini. Lalu, kuhalau semua pikiran buruk itu. Hanya rasa lelah yang akhirnya dapat mengalahkan dingin tersebut, dan akupun tertidur.
******

Tidak ada komentar:

Posting Komentar