Hari
yang sama, 8 minggu yang lalu, pukul 17.35 tepat, kereta yang kami tumpangi
mulai bergerak meninggalkan stasiun Gambir, dan dalam beberapa jam kedepan akan
meninggalkan ibukota Jakarta. Pemandangan senja ibukota membingkai di jendela
kereta. Kereta ini bergerak ke arah timur, menuju kota Malang. Kesanalah kami
akan pergi, kawan. Tempat dimana kami akan mewujudkan mimpi. Perjalanan ini
akan memakan waktu selama kurang lebih 14 jam. Ini pengalaman pertamaku naik
kereta dan tentu saja aku akan sangat menikmati perjalanan ini. Apalagi
mengingat yang menanti kami di ujung perjalanan ini, semakin membuat ku
antusias.
Pemandangan
di luar jendela pun segera berganti dengan kegelapan. Sekali-sekali terlihat
lampu-lampu rumah penduduk yang tinggal di dekat rel. Satu persatu penumpang
pun tertidur dalam selimut beludru birunya, salah satu fasilitas kereta. Ya,
kami diberi selimut beludru berwarna biru. Karena ini adalah kereta kelas
eksekutif, kawan.
Pukul
9 pagi, kereta kami tiba di stasiun kota baru Malang. Terlambat satu jam dari
jadwal yang tertera di tiket. Kami pun bergegas mencari angkot menuju Pasar
Tumpang. Tapi ternyata tak perlu mencari, sopir angkot tersebut yang malah
datang sendiri kepada kami. Barangkali ransel-ransel yang kami sandang yang
menggerakkan bapak sopir tersebut untuk bergegas menghampiri kami. Rupanya dia
sudah hafal benar penumpang kereta yang akan ke Semeru. Ya, kami berempat,
Saya, Ridwan, Dani, dan Wati akan naik Semeru hari ini. Setelah proses
tawar-menawar, semua ransel pun dinaikkan dan kami pun berangkat ke Tumpang.
Dari Tumpang, perjalanan kami lanjutkan dengan mobil Jip menuju desa Ranu Pane,
desa terakhir yang terletak di kaki Gunung Semeru.
Gunung
Semeru dengan ketinggian 3676 mdpl merupakan gunung tertinggi di pulau Jawa dan
termasuk gunung aktif. Terletak di kabupaten Malang, Jawa Timur dan berada
dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), gunung Semeru telah
menjadi destinasi wajib oleh para penggiat alam bebas untuk dikunjungi. Setiap
pendaki yang hendak mendaki Gunung Semeru harus lapor dulu di pos lapor di desa
Ranu pane dengan mengisi formulir yang telah disediakan serta membayar biaya
administrasi. Sebelum kami, ternyata sudah ada ratusan orang yang naik hari
ini. Namun tidak semuanya berniat untuk summit ke puncak, sebagian hanya sampai
Ranu Kumbolo atau kali mati saja.
Jam
15.00 wib kami memulai pendakian menuju Ranu kumbolo. Malam ini kami akan camp
disana. Trek menuju Ranu Kumbolo relatif
landai. Hanya sesekali saja bertemu dengan pendakian dengan sudut kemiringan
hampir 45 derjat, namun jalur ini cukup panjang sehingga menguras tenaga kami
yang sudah kelelahan. Sukurlah, tadi siang kami sempat makan perbekalan yang
dibawa dari Jakarta, yang seharusnya di makan di kereta, di pasar Tumpang. Sepanjang
trek, kami banyak berpapasan dengan pendaki yang hendak turun. Yang naik juga
tak kalah banyak.
Hari
pun mulai gelap. Masing-masing kami menggunakan headlamp sebagai penerang
jalan. Setelah 3 jam lebih berjalan, kami
melihat dari kejauhan campsite Ranu
Kumbolo. Seketika itu rasa lelah menghilang karena kami pikir tak lama lagi
akan sampai. Namun ternyata kami harus mengelilingi lebih dari separuh ranu dulu
untuk sampai di tempat camp yang sudah ramai oleh tenda para penggiat alam
bebas. Pukul 19.30 kami sampai di camp ranukumbolo. Kami mendirikan tenda dalam
keadaan menggigil. Teramat sangat dingin suhu di ranu kumbolo. Kami harus tetap
bergerak untuk mengurangi dingin. Tidak mudah melakukan aktifitas di suhu
seekstrem ini, karena harus melawan rasa dingin yang menusuk sampai ke tulang.
Ranu
kumbolo pada malam hari ini ramai sekali. Pesonanya seperti magnet yang menarik
para penggiat alam bebas untuk mengunjunginya. Apalagi setelah adanya film yang
mengambil Gunung Semeru sebagai salah satu lokasi syutingnya. Ah, rasanya tak
perlu kutuliskan lagi judul film tersebut. Kabarnya, setelah film tersebut
tayang, pengunjung Gunung Semeru meningkat drastis. Tapi, kami bukan salah satu
dari mereka. Pendakian ini sudah direncanakan sebelum film tersebut kami
tonton. Tapi film tersebut menjadi salah satu panduan kami dalam mengenali trek
pendakian Gunung Semeru. Selain itu juga ada beberapa video lain yang juga kami
jadikan sebagai panduan pendakian nanti.
Ranu
kumbolo jauh lebih dingin dari yang kubayangkan. Malam itu aku sulit sekali
tidur, apalagi sleeping bag yang
kubawa sudah uzur, jadi ia tak dapat menjalankan perannya lagi dengan baik. Sempat
terlintas, aku akan mati kedinginan disini. Tak terbayangkan olehku bagaimana saat
berada di kali mati nanti. Kupikir suhunya akan lebih dingin lagi dari disini.
Lalu, kuhalau semua pikiran buruk itu. Hanya rasa lelah yang akhirnya dapat
mengalahkan dingin tersebut, dan akupun tertidur.
******
Tidak ada komentar:
Posting Komentar