Suara
diluar tenda membangunku. Saat itu waktu sudah menunjukkan hampir pukul 5
shubuh, tapi diluar sudah banyak penghuni ranu kumbolo yang terbangun.
Sepertinya mereka hendak menanti sunrise. Aku pun membangunkan yang lain. Kami
tak boleh kehilangan moment yang satu ini, karena sudah jauh2 datang kesini,
begitu pikirku. Kebetulan tenda kami berada tepat di depan lembah V (aku
mendengar Dani menyebutnya begitu), tempat dimana matahari akan terbit dan
memperlihatkan kecantikannya, mahakarya Sang Pencipta jagad raya ini. Camdig pun disiapkan. Tangkap dan
simpan, maka abadilah momen itu.
Setelah
sarapan, kami pun bersiap untuk melanjutkan pendakian. Tanjakan cinta, salah
satu jalur trek Gunung Semeru, telah menunggu kami. Konon mitosnya, siapa yang
bisa strike naik tanjakan cinta tanpa
berhenti, tanpa menoleh kebelakang dan sambil memikirkan orang yang disuka,
maka permohonannya akan dikabulkan. Mitos ini mungkin jadi salah satu daya
tarik orang-orang yang datang ke Semeru. Setelah berada di top tanjakan cinta,
kami rehat sejenak. Di belai angin gunung sambil menyaksikan keindahan Ranu
kumbolo dari sisi lain. Aku pun terkesima dan bergumam, “Tuhan, kami di Semeru”.
Trek
selanjutnya menuju Cemoro Kandang dengan melewati savana oro2 ombo. Di oro2
ombo tumbuh sejenis tanaman rumput liar berbunga ungu mirip lavender dengan
nama latin verbena brasiliensis. Tapi sayang sekali, saat itu bunga ungu
tersebut telah berubah kecoklatan. Bunga rumput ini tingginya melebihi tinggi
orang dewasa dan kami melewati hamparan verbena brasiliensis tersebut bersama.
Di depan kami telah menunggu pos cemoro kandang. Kami rehat sejenak ketika
sampai di pos tersebut. Kami melihat asap membumbung ke udara di sebelah timur
cemoro kandang. Keesokkan harinya baru kami ketahui bahwa telah terjadi
kebakaran dan hamparan yang sebelumnya hijau ataupun kuning telah berubah
menjadi hitam, hangus terbakar. Kebakaran di Semeru ternyata cukup sering
terjadi, apalagi disini relatif jarang turun hujan.
Selanjutnya,
kami menuju jambangan. Di jalur ini kami menemui beberapa pendakian yang cukup
terjal sehingga lebih sering berhenti untuk sekedar mengatur nafas, ditambah
lagi jalur yang berdebu. Tidak seperti jalur Gunung Singgalang, Kerinci ataupun
Talamau yang relatif lembab, disini sebagian besar jalur yang dilewati berdebu. Alangkah
baiknya bila para pendaki menggunakan masker saat nge trek di gunung ini. Di
kedua sisi jalur terdapat pohon-pohon tinggi yang mungkin sudah berumur puluhan
atau ratusan tahun. Sesekali kami juga menemukan edelweis, anaphalis javanica,
di jalur tersebut. Sungguh merupakan suguhan yang menarik. Jam 13.30, kami pun
sampai di pos kalimati, 30 menit setelah melewati pos jambangan.
Seperti
biasa, kami segera mendirikan tenda dan memasak. Lokasi tenda kami menghadap
puncak Semeru yang akan kami daki nanti malam. Betapa gagah dan hebatnya
ciptaan Tuhan. Aku dan teman-teman terpesona melihat atap jawa yang berdiri
tegap dihadapan kami. Sesekali terlihat asap yang dimuntahkan dari kawah
Jonggring Saloko menjauh dari puncak terbawa angin. Aku pun memohon di dalam
hati agar kami diperkenankan menginjakkan kaki di titik 3676 mdpl nanti.
Malam
ini, segala persiapan untuk summit tengah malam nanti telah dipersiapkan
sebelum kami beranjak tidur. Bahkan kami tidur dengan pakaian lengkap untuk
summit kecuali sepatu. Headlamp dan
perbekalan yang akan dibawapun telah dipacking dalam sebuah daypack. Karena kami
akan summit pukul 11 malam, maka jadwal tidurpun dipercepat. Sebelum tidur,
akupun menyetel alarm di jam 10.30 malam dan tidak lupa memanjatkan doa.
Pukul
11 malam lebih, kami semua berdiri melingkar di depan tenda, seraya memanjatkan
doa, memohon kepada Sang Pencipta agar pendakian ini sukses hingga kami bisa
mencapai Top. Headlamp-ku sedikit
bermasalah, tak mau menyala, sepertinya ia menyerah pada dinginnya Semeru.
Sukurlah Wati membawa headlamp
cadangan, dan meminjamkannya padaku. Kami berjalan menembus pekatnya kegelapan
kalimati.
Malam
itu cerah, banyak bintang bertaburan dilangit dan menurut sebuah berita, malam
ini diperkirakan akan terjadi hujan meteor. Setelah satu setengah jam berjalan, kami
sampai di pos Arcopodo. Disini aku melihat beberapa tenda pendaki. Sebenarnya
kalau camp disini, maka jarak tempuh
ke puncak menjadi lebih pendek. Hanya saja disini tak tersedia sumber air. Itu
sebabnya kami lebih memilih camp di Kali mati. Pendakian dilanjutkan. Sampai
disini, trek masih belum terasa begitu berat. Pijakan masih pasti, meski
berdebu cukup hebat. Bekas pijakan orang yang ada di depan kita akan menimbulkan
debu sehingga akan mengganggu pendakian bila tak menggunakan masker.
Akhirnya,
kami sampai juga di cemoro tunggal, tempat dimana pohon terakhir tumbuh,
selanjutnya trek hanya akan terdiri dari batu dan pasir. Bismillah, langkah
diayunkan. Di kejauhan, terlihat sorot headlamp
pendaki lain yang sudah duluan naik. Lumayan banyak juga yang summit malam ini.
3 jam mendaki masih belum terlalu berat meski sudut kemiringan sudah lebih dari
45 derjat. Pijakan2 pasti masih banyak. Aku malah sering bergumam, “katanya 1
langkah naik, 2 langkah melorot turun, manaa?”
Setelah
5 jam pendakian barulah aku menemui trek tersebut. Pasir, dalam, dan melorot.
Rasanya hampir putus asa hingga membuat ku sering berhenti sejenak, sekedar
menguatkan hati, membulatkan kembali tekad untuk sampai di puncak. Dan yang
menambah keputusasaanku saat itu adalah aku kehilangan sunrise puncak Semeru. Itu membuat semangatku menguap 2 x lebih
cepat. Kemiringan trek semakin ke puncak semakin mendekati 90 dan pasir yang
dipijak pun semakin mudah melorot. “Gila! tak mungkin Pevita Pearce lewat trek ini, apalagi si Igor” pikirku.
Akhirnya
setelah 7 jam pendakian, akupun berhasil menginjakkan kaki di ketinggian 3676mdpl
pada pukul 06.00 wib. Mahameru, begitulah nama puncak Semeru. Konon menurut
kitab Arjuna Wiwaha yang ditulis oleh mpu Kanwa, di puncak inilah tempat Sang
Arjuna bertapa yang kemudian diuji oleh para dewa dengan mengirimkan tujuh
bidadari. Beberapa pendaki sudah banyak juga yang duluan sampai di puncak.
Beberapa saat kemudian Ridwan pun menyusulku. Sementara Dani dan Wati masih berjuang melawan pasir2 melorot
itu. Sungguh nikmat yang luar biasa bisa berada di atap jawa. Angin yang bertiup
kencang saat di puncak, menambah dinginnya udara pagi. Ini adalah udara puncak
semeru, kawan. Bendera merah putih berkibar dengan gagahnya. Lekukan-lekukan permukaan
bumi nampak jelas terukir. Lagi-lagi memperlihatkan keagungan Tuhan yang
menciptakan jagad raya ini dengan begitu apik dan mempesona. Belum lagi samudra
awan yang menghampar putih dan di timpa cahaya matahari pagi. Ah, ini memang
matahari yang sama dengan yang kulihat setiap pagi. Tapi kali ini aku
melihatnya dari tempat yang teristimewa sepanjang hidupku. Lagi-lagi aku
bergumam syukur.
Akhirnya
Dani dan Wati sampai juga di puncak. Ini benar-benar nikmat yang tak terkira,
karena kami berempat berhasil menginjakkan kaki di atap jawa. Mendengarkan dentuman kawah Jonggring Saloko
serta menyaksikan asap yang keluar dari dalamnya. Dani sendiri terlihat
meneteskan air mata. Aku sendiri sudah meneteskan air mata di sepanjang jalur
pendakian tadi. Sungguh berat perjuangan mencapai sebuah puncak gunung kali
ini. Dan disini pula aku menyadari bahwa diri ini tak ada apa2nya, merasa
benar-benar tak berdaya, merasa tak punya kekuatan. Sepanjang pendakian ke
puncak tak henti2nya mulut ini bergumam, memohon kekuatan pada Tuhan.
Dan
ini adalah momen yang berharga dalam hidupku, takkan terlupakan. Pendakian ini
berhasil ya Tuhan. Kami di top Semeru. Kaki ini telah menapak di atap pulau
Jawa. Kami pun mengabadikan momen di atas puncak Semeru. Selanjutnya kami
bersiap-siap untuk turun, kembali ke kali mati....Kembali pulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar